Review Terminator Salvation


Wakakak!

Ya, hello there, bru! Long time no see, eh? Ga aneh lah, wong ada Ujian Kenaikan Kelas & acara sekolah “NAVIGASI LABS ’09” yang berlangsung selama 3 hari… Ya suds lah, enough talking, let’s gaming!

Excited from the trailer, eh?

Excited from the trailer, eh?

Maaf nih, berita tentang game masih terus berputar, sementara StoPlayinGame hanya menyediakan review-review aja… Pingin juga sih nulis update-an berita game, cuman… Ya ginilah kalo ngurus sendirian, repot!

Okelah, back to the topic:

Terminator Salvation mengambil cerita sebelum cerita dari filmnya itu sendiri. Saya juga kurang tahu tepatnya, habis belom nonton filmnya sih, hehehe!

Kita berperan sebagai John Connor muda yang sudah lebih tua dari 2 film sebelumnya, dimana dia sekarang telah menjadi prajurit Resistance untuk melawan pasukan robot Skynet pada tahun 2016, di Los Angeles setelah Skynet menghancurkan dunia dengan bom-bom nuklir. Mendengar sebuah pesan minta tolong dari sesama pasukan Resistance yang terjebak di teritori musuh, merasa every live is sacred, John Connor berusaha menyelamatkan mereka sendirian, hanya dengan bantuan dari Blair Williams, rekan seperjuangannya. Tema yang cukup klise, seorang muda yang sok jago berusaha untuk menolong rekan seperjuangannya sekalipun harus tidak mempedulikan perintah atasan…

Now, on to the gameplay secshyun. Layaknya game-game lain, Terminator Salvation juga mengimplementasikan sistem cover. Sistem

Get to teh cover, private!

Get to teh cover, private!

ini benar-benar diperlukan dalam game ini, selain karena memang cukup banyak tempat “ngendok” yang disediakan ditiap area, musuh akan jauh lebih mudah dihancurkan jika kita menggunakan sistem flanking. Selain itu, ada juga indikator yang memberitahukan kemana kita dapat berpindah, dan perpindahannya pun cukup cepat.

Game ini juga memberikan slot senjata. 2 untuk senjata api, dan 2 untuk granat/pipe bomb, walaupun senjata yang disediakan tidak begitu banyak. Untuk mengganti senjata, dapat dengan memencet tombol B (pada Xbox 360) atau menahan tombol B untuk menunjukkan semua jenis senjata (granat, pipe bomb, dan 2 senapan lain) yang sedang kita bawa dan dari situ kita dapat mengganti jenis granat. Amunisi/senjata pun pada level-level awal memang tidak begitu banyak, tetapi dapat dengan mudah ditemukan jika ada objek/tembok yang menghalangi pandangan dengan senjata karena senjata-senjata yang tergelatak tersebut akan dikelilingi dengan border berwarna hijau. Sayangnya, ketika Anda sedang bersembunyi dibalik cover, Anda tidak dapat mengambil senjata, bahkan ammo! Well, nyawa dibayar amunisi. Paling tidak game ini menggunakan recovery system.

Lagu-lagu yang mengiringi dalam pertempuran pun tidak buruk, apalagi ketika lagu tema Terminator (yang bombombom-bom-bom, itu lho… Nggak ngerti, kan? Gwa juga…) menjadi BGM pertempuran. Cukup intens.

Looks cool? Wait until you play this stress-in-a-hd-dvd!

Looks cool? Wait until you play this stress-in-a-hd-dvd!

Dan untuk game dengan tema sejenis ini, lighting yang digunakan agak berbeda dari biasanya. Dalam game ini, pencahayaannya cukup terang. Tidak membuatnya jelek, tapi justru lumayan enak dilihat. Lumayanlah, buat sedikit pergantian feeling

Ada juga saat-saat dimana kita on-rail shooting menggunakan kendaraan, lumayan buat transisi dari pertempuran infantri yang agak repetitif. Cuman masalahnya, checkpoint yang disediakan sangat terbatas, bahkan seringkali harus mengulang lagi dari awal karena mati. “Lho, bukannya tadi sempat dibilang ada recovery system?” Ada sih ada, cuman 1 gelombang musuh harus dihabisi dulu, dan terkadang itu bisa menjadi sesuatu yang sangat menyebalkan. Belom lagi kalau saat-saat dikendaraan, kita tidak bisa cover.

Dewasa ini, banyak game yang menggunakan in-game engine untuk cutscene-nya. Tak terkecuali Terminator Salvation. Kadang hasilnya memuaskan, kadang standar, kadang parah… Dan Terminator masuk kebagian parah. Gerak-gerik karakter ketika cutscene benar-benar kaku dan kadang gerakan mulut tidak sesuai dengan kata-kata. Belum lagi ekspresi karakter yang justru jadi lebih seperti robot dibandingkan para Terminator tersebut… Beh…

Terminator Co-Op

At least in Co-Op mode you can drag your friend to go to this multimedia hell together...

Ngomong-ngomong tentang Terminator. Disini variasi musuh tidak banyak, hanya terdapat 3 jenis (tidak termasuk Hunter-Killer yang merupakan bos yang jarang muncul, dan Terminator-motor), Wasp: Robot kecil yang bisa terbang, Spider: Robot besar yang cuman bisa dihancurkan lewat belakang atau dengan bahan peledak jika dari depan, dan Terminator. AI yang ada benar-benar seperti robot. Wasp yang hanya bergerak kiri-kanan-depan-belakang, Spider yang kurang lebih sama dan kadang terlalu cepat menyadari posisi kita sebelum dapat menyerang, dan Terminator dengan Minigun-nya dan pukulan 1-hit-kill yang sangat tidak terduga… Belum lagi AI kawan yang luar bisa mengesalkan, terutama ketika kita dibidik 3 Spider sekaligus dan tembakan mereka diacuhkan robot-robot laknat itu…

Cuman ada 1 fitur keren di game ini, yaitu loading screennya. Dimana kita dapat menggerakkan bagian wajah dari model Terminator, yang seakan tersenyum untuk menjemput kita ke Yang Maha Kuasa di game ini…

Belum lagi dengan waktu permainan yang kurang lebih hanya 4 jam (saya tidak sadar karena mainnya agak lompat-lompat karena RROD dan UKK), tipikal game dari film dan TIDAK ADAnya replay value. My God!

Long story short, bagi Anda yang kurang tertarik dengan genre/film ini, tidak usah beli (meskipun bajakan. Apalagi kadang suka nge-hang dan cutscene CG yang “mendingan” musti di-skip). Atau jika Anda memang penasaran… Ya suds, beli sajalah, bajakan ini… Dan bagi Anda yang kecewa dengan gamenya, silakan tonton semua trailer Terminator Salvation yang tersebar di interwebz, yang jauh terlihat lebih seru daripada hasilnya. Atau bagi Anda yang ingin achievement/trophy secara cuma-cuma, boleh deh, tapi jangan buat PS3…

—————————————————————-

Score:

Gameplay: 7.0 (Biasa aja, nggak ada yang spesial…)

Graphic: 7.0 (Standar, bahkan dibawah standar next-gen…)

Music & Sound: 8.0 (Paling nggak ada theme song Terminator yang keren!)

Replay Value: 0 (MY GOD!! Mau maen game gila ini dengan level yang lebih tinggi? No way, hose!)

Overall: 6.5 (Ugh… tipikal movie-to-game…)

2 Tanggapan so far

  1. 2

    […] Tidak hanya karakter yang kurang memorable, cerita yang berusaha untuk disuguhkan kehadapan pemain juga terasa sangat datar. Taliban musuh, Pasukan AS jagoannya. Bam. Selesai. Tamat. Tidak ada dorongan yang jelas untuk menjalankan misi selain suasananya yang berkata “Hei, ini lagi ada perang! Sana bunuh musuh!”. Pada misi awal-awal, game ini terasa sangat datar dengan kontrol yang terasa sangat berat, dan entah kenapa, membosankan. Hal itu sangat mengecewakan, karena bagi saya first-look itu sangat penting karena sangat menentukan apakah saya akan lanjut bermain atau tidak. Grafiknya juga entah kenapa baru terasa nyaman dipandang ketika memasuki pertengahan permainan, terutama ketika misi di siang hari. Tekstur juga sering sekali terlambat ke-render (pop-in). Paling tidak Medal of Honor masih bisa memancing saya untuk terus bermain ketika memasuki 3 jam permainan. Sayangnya ketika permainan sudah semakin intense, tiba-tiba Anda tinggal menikmati cutscene dan, BAM, tamat. Oh ya, cukup mengherankan juga melihat game menggunakan cutscene CG, karena akhir-akhir ini developer lebih memilih menggunakan in-game engine untuk cutsene, sejelek apapun engine-nya (I’m looking at you, Terminator Salvation…) […]


Comment RSS

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: