Review Medal of Honor


Sebelum kita memasuki review, marilah kita bersama-sama berdoa sejenak untuk sanak-saudara kita yang tertimpa musibah-musibah yang terjadi di Tanah Air tercinta ini. Semoga yang meninggal dapat diterima disisi-Nya, yang ditinggalkan dapat tegar dalam menjalani hidup, dan yang menghilang dapat segera ditemukan. Amin.

Okaay, lanjut ya! Medal of Honor kali ini mengambil tema modern dan EA mengambil langkah-langkah berani untuk meningkatkan pamor. Seperti menggunakan developer serta engine yang berbeda untuk mode single-player (Danger Close, Unreal Engine 3) dan multi-player (DICE, Frostbite Engine),  menyewa konsultan dari angkatan bersenjata AS, bahkan menimbulkan kontroversi karena menggunakan nama Taliban! Apakah Medal of Honor mampu menjadi game yang unik dan berbeda? Silakan baca reviewnya… after the break.

Cerita dalam mode single-player mengambil tempat di Afghanistan tahun 2002 dan untuk sebagian besar porsi waktu permainan, kita akan mengendalikan seorang pasukan khusus “Tier 1” dengan codename Rabbit. Sementara sisanya akan terbagi-bagi untuk mengendalikan prajurit Tier 1 lain, Deuce; prajurit Ranger, Dante Adams dan pilot Apache, Captain Brad “Hawk” Hawkins. Tapi jika Anda tidak dapat mengingat nama-namanya tidak masalah, karena saya sendiri hanya bisa mengingat General Flagg yang menyebalkan.

Grafik pas siang hari bagus

Tidak hanya karakter yang kurang memorable, cerita yang berusaha untuk disuguhkan kehadapan pemain juga terasa sangat datar. Taliban musuh, Pasukan AS jagoannya. Bam. Selesai. Tamat. Tidak ada dorongan yang jelas untuk menjalankan misi selain suasananya yang berkata “Hei, ini lagi ada perang! Sana bunuh musuh!”. Pada misi awal-awal, game ini terasa sangat datar dengan kontrol yang terasa sangat berat, dan entah kenapa, membosankan. Hal itu sangat mengecewakan, karena bagi saya first-look itu sangat penting karena sangat menentukan apakah saya akan lanjut bermain atau tidak. Grafiknya juga entah kenapa baru terasa nyaman dipandang ketika memasuki pertengahan permainan, terutama ketika misi di siang hari. Tekstur juga sering sekali terlambat ke-render (pop-in). Paling tidak Medal of Honor masih bisa memancing saya untuk terus bermain ketika memasuki 3 jam permainan. Sayangnya ketika permainan sudah semakin intense, tiba-tiba Anda tinggal menikmati cutscene dan, BAM, tamat. Oh ya, cukup mengherankan juga melihat game menggunakan cutscene CG, karena akhir-akhir ini developer lebih memilih menggunakan in-game engine untuk cutsene, sejelek apapun engine-nya (I’m looking at you, Terminator Salvation…)

Awalnya terasa sangat bland

Gameplay yang ditawarkan juga tidak jauh berbeda dari FPS biasa, kecuali disini Anda bisa melakukan teknik run and slide dan lean and peek. Kali ini jika amunisi senjata Anda menipis, Anda dapat langsung memintanya ke AI kawan. Walaupun hal ini bisa membuat pemain tidak perlu susah-susah memikirkan soal amunisi, tapi hal ini justru membuat pemain jadi malas mengambil senjata lain dan variasai senjata yang dihadirkan disini jadi tidak begitu berguna.

Sayangnya untuk mode multiplayer-nya saya masih belum bisa berbicara apa-apa. Mungkin setelah danjo1402 menerima copy game ini untuk PC dan mencoba multiplayer, saya bisa dapat sedikit gambaran.

Yah, bye for now and don’t forget to take a break!

———————————————————–

Score:

Gameplay: 8.0 (Standar dengan sedikit twist)

Graphic: 8.5 (Pertengahan baru bagus)

Story: 7.0 (Kurang memorable)

Music & Sound: 8.0 (Lumayanlah)

Replay Value: 7.0 (Malesin)

Overall: 7.5 (Standar)

Website: MedalofHonor.com

1 Response so far

  1. 1

    […] Metro dengan mode gameplay Rush Mode secara cuma-cuma. Atau bagi yang beruntung karena membeli Medal of Honor Limited Edition atau mem pre-order Battlefield 3 melalui Origin, Anda bisa menikmati beta pada 27 […]


Comment RSS

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: