Review Katawa Shoujo


So yeah… Review pertama saya (dan blog ini) tentang visual novel. Mungkin sebagian dari Anda sudah tahu apa itu genre “visual novel” ini, mungkin sebagian masih ada yang belum tahu. Jangan khawatir, I’ll fill in some blanksOn a second thought, I’ll let Wikipedia fill in the blanks. Tapi kalau ada pertanyaan apa-apa bisa langsung ditanyakan di bagian comment.

kasarnya, (maaf) "Gadis Cacat"

Dan jujur saja nih. Saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan me-review — bahkan mencoba — game macam ini. Walaupun memang berat di cerita/tulisan, it’s still a pretty enjoyable ride!

Hisao, sang  karakter utama, mendapat sebuah catatan yang memintanya untuk berada di lapangan di belakang sekolah. Setibanya di sana, dia bertemu dengan gadis impiannya. Ketika sang gadis mulai mengakui perasaannya, hati Hisao mulai berdetak cepat. Bahkan terlalu cepat. Hisao pun mendadak tidak sadarkan diri.

Ketika terbangun, dia berada di rumah sakit dan di diagnosis terkena arrythmia, masalah jantung fatal dan seumur hidup harus bergantung pada bantuan obat agar dapat bertahan hidup.

Akhirnya, dia sudah boleh keluar dari rumah sakit dan kembali bersekolah… but there’s a catch. Dengan kondisinya yang mengkhawatirkan dan perlu pengawasan ekstra, dia di transfer ke sekolah khusus: Sekolah Tinggi Yamaku bagi penyandang cacat.

And bam, the game starts.

Despite any kind of flaw(s), I'm still a sucker for girls with twintails...

Pada awalnya saya berpikir, “Memainkan game tentang orang-orang dengan ‘kekurangan’ terasa sangat… tasteless.” Tetapi melihat si Hisao yang awalnya “normal” dan kemudian harus beradaptasi di lingkungan baru, skenario tersebut bisa dibilang sangatlah cocok untuk menjembatani pemain dengan dunia game ini. Narasi karakter utama terhadap diri dan lingkungan cukup mendetil dan mampu menarik simpati. Begitu pula karakteristik para gadis-gadis utama.

Dalam kasus ini, mereka berhasil dikemas dengan baik. Di balik sifat-sifat yang mungkin cukup klise, kita akan dihadapi dengan kenyataan bahwa mereka telah menghadapi ‘kekurangan’ mereka selama bertahun-tahun, mengetahui bagaimana mereka berusaha melalui hal tersebut, dan pada akhirnya bagaimana Hisao akan mendampingi gadis tersebut. Cerita yang cukup menggugah hati tersebut mampu dituturkan dengan pacing yang tepat.

And there’s a lot of funny stuff. Mulai dari obrolan kasual, pikiran tokoh utama terhadap lingkungan sekitarnya, hingga karakter yang memang ngaco. Semua terasa natural dan tidak dipaksakan.

Sederhananya: Writing-nya bagus. 4 Leaf Studios mampu menangani subjek yang cukup sensitif ini dengan baik dan masuk akal, karakter-karakter yang likeable baik karakter utama maupun pendamping, serta sisipan humor yang muncul secara natural.

Selain writing, faktor utama lain yaitu artwork-nya yang bagus. Selain karakter-karakter, latar belakang juga Well this is visual novel after all, selain kita hanya bisa memperhatikan penulisan, kita hanya bisa melihat gambar-gambar saja. Selain gambar diam, ada juga animated cutscene walaupun menurut saya tidak sebagus gambar lain.

Tapi genre visual novel ini tidak sepenuhnya cocok untuk konsumsi semua kalangan. Game macam ini umumnya sangat, sangat berat di bagian tulisan, yang berarti Anda diharuskan untuk membaca hingga lebih dari ribuan kalimat. Belum lagi interaksi pemain terhadap dunia gamenya juga sangat terbatas, sekedar memilih pilihan-pilihan yang harus dilakukan oleh karakter utama.

Dan tidak mengherankan, ada beberapa “konten dewasa” dalam game ini, tapi Anda bisa mematikannya di menu. Walaupun saya sarankan Anda untuk melakukannya, mengingat event tersebut bisa muncul begitu saja (berdasarkan playthrough saya). Seperti inilah kira-kira reaksi saya ketika tiba-tiba menyaksikannya… Dan Anda juga masih harus berhati-hati karena yang softcore tidak di sensor.

Setelah berminggu-minggu (bulan bahkan!) yang dipenuhi game-game aksi penuh adrenalin dan konspirasi, game macam ini merupakan change of pace yang cukup bagus dan menarik. Lagipula sebelumnya saya benar-benar tidak mengharapkan sesuatu dari ini. Belum lagi game ini juga (tentunya) memiliki berbagai macam ending, dan setelah mencari-cari gambar di internet saya jadi semakin penasaran.

And the best part: It’s free!

This game in a nutshell

Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, ini review visual novel pertama saya, but expect more of them! (since it’s also a game, y’know. Oh rekomendasi [dan mungkin “sukarelawan” lain] akan benar-benar saya hargai!)

—————-

Score:

Gameplay: 6.0 (Banyak baca, tidak cocok untuk semua orang)

Graphic: 7.0 (Artwork-nya menarik)

Story: 8.5 (Tema yang agak sensitif ini bisa diolah dengan baik dan menarik)

Music & Sound: 8.0 (Lagu-lagu santai dan tenang yang cocok dengan suasana)

Replay Value: 7.5 (Ada multiple ending)

Overall: 8.0 (Heartwarming dan change of pace yang menarik setelah memainkan game-game penuh aksi)

Website:

Katawa-Shoujo.com

P.S. Writing (and playing) this makes me want to cry

P.S.S I must be in the same boat as these guys


11 Tanggapan so far

  1. 1

    minoru said,

    Untuk ukuran game yang bisa didownload gratis, production value Katawa Shoujo cukup tinggi, baik dalam segi visual, audio dan storyline. Belum lagi replay value seperti yang anda sebutkan di review, karena inti dari sebuah visual novel adalah mendapatkan semua ending (Well, saya sendiri baru berada di pertengahan arc Lilly sih.) Salut deh buat Four Leaf Studios untuk karya mereka yang satu ini.

    Memang benar, genre ini bukanlah genre yang bisa dikonsumsi semua orang. Tapi ketika anda mulai mengerti betapa sebuah visual novel dapat menjadi sarana pencerita yang luar biasa hebat (dapat disamakan dengan literatur malah) maka anda bakal dapat lebih mengapresiasi genre ini lebih dalam.

    Jika anda “baru” dalam dunia visual novel, saran saya coba dulu dari judul-judul yang tidak terlalu berat. Mungkin bisa dicoba dari game NDS seperti Ace Attorney series dan 999. Nah ketika anda sudah mulai mendapatkan ‘feel’nya cobalah vn-vn berikut:
    -Ever 17
    -Planetarian
    -Umineko no Naku Koro Ni
    -Saya no Uta (17+)
    -Tsukihime (17+)
    -Yume Miru Kusuri (17+)
    -Kara no Shoujo (17+)
    jika ingin sedikit bumbu gameplay bisa coba yang berikut:
    -Sengoku Rance (strategy, 17+)
    -Tears to Tiara (SRPG, 17+)

    Have a nice day, sir.

  2. 2

    Unit 076 said,

    @minoru: Thanks berat nih buat rekomendasinya! Highly appreciated!
    Ace Attorney saya sudah coba dan memang menarik, saya sendiri baru sampai pertengahan Justice for All. Saya juga cukup tertarik dengan 999 tapi belum sempat coba.

    Sama sekedar nanya aja nih: Apa memang visual novel yang nggak 17+ itu susah dicari ya?

  3. 3

    Asop said,

    Waaah, gak saya sangka blog ini mau nge-review Katawa Shoujo.😀

    Saya udah maenin versi awalnya, yang cuma satu chapter itu.😀 Tapi emang dasarnya saya gak minat ama visual novel (kecuali CLANNAD), saya gak tertarik.🙂

  4. 4

    Unit 076 said,

    @Asop: Saya sendiri juga nggak nyangka mas! Hahahaha😀
    Tapi berhubung penasaran, yah saya coba aja. Itung-itung memperluas “wawasan” dunia game~

  5. 5

    minoru said,

    @Unit 076
    Sebetulnya nggak juga sih. Nyaris semua visual novel yang dirilis di konsol maupun handheld itu All-Ages kok, cuma di PC saja yang bebas merilis versi 17+. Tapi yah itu tadi, karena genre ini kurang bisa diterima secara mainstream jadinya versi english resmi dari VN yang dirilis di konsol dan hendheld juga jarang ditemukan. Tapi untungnya selalu ada grup fan translation yang berdedikasi😀

  6. 6

    Unit 076 said,

    @minoru: Iya sih, jelas kalau versi handheld atau konsol (kalau ada) all-ages/di-sensor. Jadinya menimbulkan pertanyaan baru: Apakah adegan itu memang diperlukan?

    Menurut saya sih, pas main KS dan sampe ke “adegan” yang pertama, saya agak kaget. Saya tahu bakal ada, tapi munculnya agak tiba-tiba. Setelah ditamatin pun rasanya adegan macam itu nggak terlalu memberikan efek yang signifikan. Yah, saya nggak tahu sih kalau buat yang lain berhubung baru namatin rutenya Emi atau efeknya di game-game lain.

  7. 7

    LSS said,

    Sebenarnya adegan 17+ yang ada di KS ini buat saya ada di daerah abu-abu sih. Daerah abu-abu antara dibutuhkan atau tidak. Saya baru mainkan rute Lilly, di satu sisi emang terasa gak penting mengingat itu adegan muncul tiba-tiba sekali. (kurang satu jam setelah confess dan langsung?!) Tapi kalau mengesampingkan pertimbangan itu, penggambaran adegan 17+ di rute Lilly itu justru menunjukkan kepentingannya juga, hasrat dan keintimannya. Bukan hasrat dalam artian lust seperti memainkan eroge untuk melihat adegan 17+, tetapi lebih seperti ceritanya sendiri yang memunculkan adegan tersebut. Jadi kalau mau dibilang natural pun, adegan 17+ yang sekilas terasa tidak penting pun ada pentingnya juga, dan tidak janggal. Tentu bisa diangkat kontroversi mengenai apa usia mereka sudah pantas atau tidak tapi rasanya itu masalah lain😛
    Lagipula ada opsi untuk menonaktifkannya sih..

  8. 8

    […] If you think I’m being too serious. You should thank this guy for the more dependable review rather than my somewhat-trying-to-convey-something-personal review. Also check out the postscript […]

  9. 9

    Unit 076 said,

    @Annas: Bener juga sih. Tapi apa berarti adegan itu memang nggak begitu penting? Rasanya untuk masalah “keintiman” bisa diganti, apalagi mengingat game genre ini sangat berat di tulisan…
    Lagipula sensornya “jayus” ah.

  10. 10

    LSS said,

    Kalau baca novel yang menampilkan adegan intim pun bisa lebih eksplisit dari VN sih. Ditiadakan sepenuhnya memang gak masalah dan diganti dengan sekedar peluk-pelukan panas tapi kan “sex sells” :p

    Sensor di CG? Sensor di gambar kapan gak jayus sih.. kecuali convenient censoring.

  11. 11

    Unit 076 said,

    @Annas: Bener juga sih. Cuman kadang jadinya terasa “harus ada” bukannya “memang ada.”
    Kirain disable adult content-nya gimana, Mau recommend ke temen jadi bingung dah.

    (Kirain ga bales, ternyata komen masuk spam hahahahaha)


Comment RSS

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: