OoT(G)B: Review The Avengers


Dalam Out of the (Gaming) Box, kami akan membahas hal-hal menarik selain video game. Baik itu buku, komik, mainan, film, musik, atau hal-hal lainnya… bahkan celana dalam. Ya, jika kami menemukan celana dalam yang unik, akan kami ceritakan disini. ———————————————————————–

Avengers, assemble!

Sebenernya saya udah nonton hari Sabtu minggu lalu dan rasanya timing bikin review-nya kurang tepat, tapi ya sudah lah… better late than never, right? (salah satu moto StoPlayinGame juga nih, hehehehe). Anyway!

Setelah petunjuk-petunjuknya disebar di lima film Marvel yang berbeda, The Incredible Hulk (2008); Iron Man; Iron Man 2; Thor; dan Captain America: The First Avengers, akhirnya nongol juga “Earth’s Mightiest Heroes,” The Avengers!

Jujur saja, ingatan saya soal film ini sudah “kurang segar” jadi kayaknya review kali ini bakal pendek…

Setelah kejadian dari film Thor, Loki ternyata berhasil kembali ke bumi dan mengambil suatu artefak berbahaya yang disebut sebagai Tesseract. Dengan artefak tersebut, dia berusaha untuk menguasai bumi dengan bantuan ras alien Chitauri. Nick Fury, pemimpin organisasi S.H.I.E.L.D., pun akhirnya membentuk tim super-hero “Avengers” untuk menghentikan upaya Loki.

Beranggotakan orang-orang dengan kepribadian yang bertolak-belakang, Tony Stark, alias Iron Man, yang egosentris; Steve Rogers, Captain America, yang merasa terkucil di dunia modern; Thor yang lebih mementingkan hubungan persaudaraannya dengan Lok; dan Bruce Banner, Hulk, yang… yah paling susah dikontrol, sepertinya pembentukan tim ini tidak semudah kedengarannya…

Expect explosions

Sutradara Joss Whedon berhasil menangkap apa yang kita suka dari komik super-hero kedalam film ini. Kostum yang mentereng, non-stop action, dan komedi. Semua berhasil dipadu dengan mantap. Terutama pada bagian komedi, yang sangat sangat konyol dan agak “tidak terduga.” Bagian action jangan dibahas. Tiap karakter memiliki bagiannya sendiri dan semua berhasil diarahkan dengan seru, penuh isi, dan tentunya penuh ledakan!

Peran yang dilakoni juga berhasil dibawakan dengan kuat oleh tiap aktor, terutama Mark Rufallo. Memang pada awalnya menggantikan Edward Norton dengan Mark Rufallo terasa agak aneh, tapi pada akhirnya Rufallo berhasil membawakan sosok Dr. Bruce Banner yang tertekan-tapi-kalem dengan sangat baik. Konflik yang terjadi dalam diri tiap karakter pun berhasil terlihat dan menciptakan semacam “kedalaman” yang memang sangat diperlukan dalam film ini. Semua orang punya masalah sendiri dan Whedon berhasil mengarahkan film ini agar semua penonton tahu selayaknya mereka telah mengenal para karakter sejak lama.

Dan sekarang waktunya “protes” dari penggemar komik!

Meskipun semua karakter berhasil dibawakan dengan baik, kecuali Hawkeye yang terasa agak lemah dan kurang penting, sayangnya film ini kurang setia pada sumber. Dimana “founding members” asli Ant-Man dan Wasp? Walaupun Hank Pym (Ant-Man) pada awalnya memang cuma bisa megecil, tapi nantinya dia juga bisa memperbesar diri menjadi Giant-Man! Gabungkan saja kedua karakter itu!

Kemudian desain musuhnya: Chitauri. Di komiknya, Chitauri adalah ras alien berbahaya yang mampu mengubah wujudnya dan telah mengontrol jalannya konflik di dunia selama ini dengan meniru tubuh manusia. Di filmnya mereka terlihat seperti… perpaduan gagal dari Chimera (Resistance) dan Transformers-nya Michael Bay! Sangat disayangkan karena kelihatannya mereka seharusnya punya potensi yang besar.

Terakhir memang nggak penting, tapi bakal keren kalo pas awal-awal Iron Man memakai armor scuba-diving-nya mengingat dia punya berbagai macam armor untuk berbagai macam keperluan.

Akhir kata, The Avengers merupakan film yang sangat menghibur terutama jika Anda sudah kenal dengan pahlawan-pahlawan Marvel ini. Tapi jika Anda fans berat komiknya… saya nggak bakal bilang Anda tidak akan menikmati film ini, hanya saja Anda pasti bakal menemukan beberapa hal untuk “dibahas.”

Tontonlah, Anda tidak bakal kecewa.

Oh, and yeah the Helicarrier is beast!

%d blogger menyukai ini: